Selasa, 05 April 2011

Kenapa merokok?

Jawaban tiap orang bisa berbeda beda, ada yang karena ingin terlihat keren, melepas stress, demi pergaulan, dan sebagainya. Ribuan alasan bisa dibuat untuk memulai merokok, tapi yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah mengapa pada saat mengambil keputusan untuk merokok ada orang yang perlu berpikir lebih lama seperti ada semacam pagar dahulu yang harus dia lompati dimana jika orang itu melawati pagar tersebut maka ia akan merokok. Namun ada juga orang yang tanpa keraguan sedikitpun langsung mau saat ditawari merokok pertama kali.


Mungkin salah satu yang menyebabkan saya dengan mudahnya mencoba batang rokok pertama adalah karena informasi mengenai bahaya merokok dijaman saya masih kecil bisa dibilang minim dan sulit diperoleh. Jaman saya dulu tv hanya satu, TVRI, ga seperti jaman sekarang. Internet apalagi, komputer aja masih dua warna jaman saya kecil. Informasi seperti ini tentunya akan membuat orang berpikir dua kali sebelum mencoba menghisap satu batang rokok pertamanya dalam hidupnya. Alhamdulillah sekarang informasi mengenai bahaya merokok dan kampanye-kampanye anti rokok mudah diperoleh, sayang gaungnya masih kalah dengan iklan-iklan rokok. 

Orang tua perokok juga memberikan kontribusi yang mungkin cukup signifikan terhadap anaknya. Sering saya temui orang tua yang perokok anaknya perokok juga tapi jarang saya temui orang tua yang perokok anaknya tidak merokok. Tanpa mengacuhkan bahwa ada juga yang orang tuanya tidak perokok tapi anaknya merokok, namun orang tua sangat mempengaruhi keputusan anaknya saat ia ditawari rokok oleh temannya. Saya masih ingat waktu kecil, ketika orang tua saya masih merokok, saya meminta rokok pada orang tua saya. Tentunya tidak boleh dan kalau saya tanya kenapa, jawabannya "nanti kalau udah bisa nyari uang sendiri, baru boleh merokok". Jawaban itu tertanam dikepala saya hingga saat ini, sehingga bagi saya waktu itu rokok bukanlah kebiasaan buruk yang berbahaya tapi hanya sebatas membakar uang saja dan jika uangnya saya peroleh sendiri maka saya boleh merokok. 

Pernah juga waktu kecil saya melihat rokok ayah saya dan saya baca mereknya, Super, dan dibenak saya waktu itu adalah "nanti kalau sudah besar saya rokoknya Super juga ah biar kayak papah", dan benar waktu saya curi-curi merokok, rokok yang pertama saya hisap adalah Super. Lagipula seorang ayah perokok akan tampak bodoh jika menjawab pertanyaan anaknya soal rokok dengan mengatakan bahwa rokok berbahaya, beracun dan mematikan. Jadi jika ga pengen anak kita merokok, jangan merokok didepan anak-anak kita, atau lebih bagus lagi berusaha berhenti merokok.  Jadi dipikiran saya, antara rokok dengan film 17 tahun keatas ga ada bedanya, hanya tunggu waktu dan boleh dinikmati. Kalau ga sabar ya curi-curi aja, toh selama ga ketauan ga apa-apa kan. Saya ga bermaksud menyalahkan orang tua saya. Saya merokok karena keputusan saya sendiri. 

Film juga sangat mempengaruhi pola pikir kita mengenai rokok. Ketika saya kecil, dan kampanye anti rokok mungkin belum ada, banyak sekali jagoan-jagoan dalam film yang merokok, baik film biasa maupun kartun, Popeye contohnya meskipun rokok cangklong yah bukan rokok filter tapi intinya sama saja. Ini membuat cita-cita saya untuk merokok terbentuk, karena rokok menjadi identik dengan jagoan di film-film yang keren dan hebat. 

Tentunya banyak hal lain yang mungkin berbeda diantara perokok mengenai hal apa yang melancarkan jalan mereka menjadi perokok. Namun bagi saya, yang terpenting adalah anak saya tidak perlu melalui apa yang harus saya lalui. Kecemasan-kecemasan akan penyakit mematikan yang muncul akibat merokok, kehabisan uang, daya tahan tubuh yang menurun sehingga di usia muda tapi mudah sakit-sakitan, stamina yang jeblok, dan sebagainya, saya bisa berharap agar anak saya tidak menjadi perokok dan tidak perlu mengulang apa yang ayahnya harus rasakan. Oleh karena itu saat ini saya harus bisa benar-benar berhenti merokok. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar